Pematang, Pukul Dua Pagi
Ratih bertanya apa yang kau takutkan. Kau menjawab: polisi, drop out, bapakmu. Dia tertawa dan bilang dia takut kalah lalu tetap harus hidup lama sesudahnya.

Foto Ilustrasi
Isi tulisan
Kau mengikat tali sepatu di depan pos dua. Kabut menutup jalur, dan Ratih menunggu dengan kompor lapangan yang gagal menyala tiga kali. Dia meniup api. Kau memandang tangannya. Di ranselnya ada dua buku: panduan tumbuhan obat dan salinan pidato yang dia tulis untuk rapat warga pekan depan.
Kalian naik karena perusahaan perkebunan sawit memasang patok baru di kaki bukit timur. Ratih memotret setiap patok. Kau menyalin nomor izin ke halaman belakang buku sakumu. Malam itu kalian berbagi satu kantong tidur dan dia bercerita tentang bapaknya yang kehilangan sawah pada 1998.
Pencinta alam di kampusmu suka bicara soal jejak dan sampah. Ratih bicara soal siapa yang menandatangani izin. Kau mulai melihat gunung sebagai daftar nama: kepala dinas, notaris, pemilik lahan yang tak pernah datang. Kau juga mulai melihat Ratih sebagai alasan kau turun lebih lambat.
Di pos satu kalian bertemu Haji Sanre, yang menanam kopi sejak 1970-an. Dia menyodorkan gelas dan bertanya apakah kalian mahasiswa yang menulis surat itu. Ratih mengangguk. Haji Sanre memanggil dua anaknya, lalu tiga tetangganya. Rapat warga pekan depan berubah jadi rapat malam ini, di dapur berlantai tanah, dengan peta jalur yang kalian gambar ulang di kertas nasi.
Kau membaca daftar titik mata air. Ratih membaca nama-nama pemilik izin. Orang-orang menyebut sungai dengan nama yang tidak ada di peta pemerintah, dan kau menulis nama itu di margin. Tanganmu bersentuhan dengan tangannya saat kalian membalik halaman yang sama. Tak seorang pun menyebutnya apa-apa.
Pukul dua pagi kalian jalan pulang lewat kebun kopi. Ratih bertanya apa yang kau takutkan. Kau menjawab: polisi, drop out, bapakmu. Dia tertawa dan bilang dia takut kalah lalu tetap harus hidup lama sesudahnya. Kalian berhenti di pematang. Dia mencium pipimu lalu berjalan lagi.
Enam bulan kemudian kau berdiri di depan kantor gubernur dengan spanduk yang Ratih jahit dari terpal bekas tenda. Dia memegang ujung kiri. Kau memegang ujung kanan. Wartawan memotret spanduknya, bukan wajah kalian, dan itu memang rencananya. Malamnya kalian makan mi di warung kecil dekat terminal, membagi satu porsi, menghitung sisa uang untuk cetakan spanduk berikutnya.
Tulisan ini adalah pandangan pribadi penulis dan tidak mewakili sikap resmi REICHAS CHELEBES. Sanggahan boleh dikirim ke surel redaksi di bawah dan akan kami muat bila layak. Konteks dan pelajaran di atas ditulis oleh pengelola Kliping RCS.CBS. Kutipan berita dipakai secukupnya untuk keperluan pendidikan, dan hak ciptanya tetap milik penerbit asli. Keberatan atas kutipan ini bisa dikirim ke kliping.rcscbs@gmail.com.
Buka di portal — lengkap dengan narator, rak baca, dan kliping serupa