Sosok yang dianggap menyesatkan pendaki dan apa yang terjadi pada otak yang kelelahan
Rasa ditemani sosok tak terlihat sudah lama tercatat dalam literatur kedokteran pendakian.

Ilustrasi sendiri: siluet pendaki dan bayangan lampu kepala di kabut
Potongan berita
Pemberitaan hilangnya seorang pendaki muda di kawasan pegunungan Jawa Timur sempat memantik cerita hantu yang melingkupi aktivitas pendakian. Pertanyaan yang kemudian diangkat: halusinasi atau nyata?Dikutip dari Detik, 8 Juli 2019. Baca berita aslinya
Konteks dari meja kurasi
Rasa ditemani sosok tak terlihat bukan hanya hidup di cerita malam. Sebuah laporan kasus di jurnal kedokteran alam liar mencatat pendaki sangat berpengalaman yang merasakan kehadiran seseorang dan melihat cahaya lampu yang sebenarnya tidak ada, saat turun dari puncak pada ketinggian sekitar 7.500 meter, dan gejalanya hilang sendiri setelah ia mencapai kemah. Pemicunya bukan satu hal, melainkan tumpukan: oksigen menipis, kurang tidur, kelelahan, dehidrasi, gangguan elektrolit, jarak pandang buruk, rasa terisolasi, dan takut. Di gunung tropis yang jauh lebih rendah, penipisan oksigen tidak sedrastis itu, sehingga utang tidur, dingin, dan kelelahan biasanya menjadi kombinasi utamanya. Otak juga terbiasa melengkapi pola yang tidak utuh, sehingga bayangan di kabut dan derau angin mudah terbaca sebagai wajah atau suara. Penjelasan ini tidak dimaksudkan menertawakan pengalaman siapa pun, sebab yang dirasakan memang nyata bagi yang mengalaminya, dan justru berguna sebagai peringatan dini.
Pelajaran yang bisa dibawa
- Baca halusinasi, bisikan, atau rasa ditemani sebagai alarm tubuh, bukan bahan cerita seru. Alarm ini biasanya menyala setelah utang tidur dan kelelahan menumpuk, jadi berhenti, hangatkan diri, makan, minum, lalu tidur bila keadaan aman.
- Jangan mengambil keputusan besar seperti mengubah jalur, memisahkan diri, atau memaksa puncak ketika persepsi sedang tidak bisa dipercaya. Tunggu terang, atau serahkan keputusan kepada anggota yang paling segar.
- Buka ruang bercerita tanpa ditertawakan sepulang pendakian. Kelompok yang aman adalah kelompok yang anggotanya berani mengaku sedang tidak beres, sehingga gejala kelelahan berat terdeteksi lebih awal.
Vonis
Belum diverifikasi
Konteks dan pelajaran di atas ditulis oleh pengelola Kliping RCS.CBS. Kutipan berita dipakai secukupnya untuk keperluan pendidikan, dan hak ciptanya tetap milik Detik. Keberatan atas kutipan ini bisa dikirim ke kliping.rcscbs@gmail.com.
Buka di portal — lengkap dengan narator, rak baca, dan kliping serupa