Logo REICHAS CHELEBESKLIPING RCS.CBSBaca. Pahami. Bagikan.Materi belajar

Gunung yang Kehilangan Cara untuk Bernapas

"Gunung tidak pernah meminta untuk dipuja. Ia hanya ingin dibiarkan bernapas, agar tetap mampu menghidupi setiap makhluk yang bergantung padanya."

✍ Buah PikirOpini
Ditulis 7 Agustus 2026 oleh Cece Meri · disetujui Cece Meri · Nasional
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Isi tulisan

OPINIKU

Semoga jadi pengingat kecil buat siapa pun yang membaca.

Gunung yang Kehilangan Cara untuk Bernapas

"Gunung tidak pernah meminta untuk dipuja. Ia hanya ingin dibiarkan bernapas, agar tetap mampu menghidupi setiap makhluk yang bergantung padanya."

Dulu, puncak itu hanya didatangi mereka yang benar-benar mencintainya. Pendaki lama menyebutnya "gunung yang pemalu", kabutnya turun setiap kali ada mata yang memandang, seolah ia butuh privasi untuk menyimpan rahasia-rahasia purba di lipatan lerengnya.

Semua berubah ketika sebuah foto di puncak, dengan latar lautan awan dan caption "healing sejenak dari kerasnya hidup", mendapat sepuluh ribu suka dalam semalam. Setelah itu, gunung tak pernah sepi lagi.

Setiap akhir pekan, ratusan orang berbondong naik, bukan untuk mendengar suara angin di antara bebatuan, cemara atau pinus, bukan untuk mengagumi dan mendengar suara lirih arus sungai yang berkhias kariango. Tapi untuk mengumpulkan bukti bahwa mereka pernah "ada disini". Banyak dari mereka bahkan tak tahu nama-nama tumbuhan yang mereka injak, yang penting sudut kamera bagus, yang penting story Instagram tayang sebelum baterai habis.

Sampah mulai menumpuk di celah-celah batu dan jalur setapak, bungkus mi instan, botol plastik, puntung rokok dan berbagai macam jenis sampah yang dibuang dan berserakan begitu saja karena "kan cuma satu, tidak akan berpengaruh." Tapi satu dikali sekian orang, menjadi tumpukan sampah baru yang tumbuh lebih cepat dari yang bisa diurai alam.

Jalur setapak yang dulu sempit dan menyatu dengan tanah kini melebar, tergerus ribuan sepatu yang tak sabar. Akar-akar pohon yang dulu tertutup humus kini terekspos, terinjak, mati perlahan. Sumber mata air yang dulu jernih mulai keruh, karena terlalu banyak yang mencuci muka, membasuh kaki, membasuh badan bahkan kencing dan berak sembarangan.

Burung-burung yang dulu bersarang di lereng itu pindah lebih tinggi, lebih jauh, mencari sunyi yang sudah tak lagi mereka temukan di sana. Binatang binatang kecil yang dulu berani muncul di senja kini bersembunyi permanen. Alam, yang dulu ramah pada siapa saja yang datang dengan hormat, mulai menutup dirinya seperti seseorang yang trauma disentuh terlalu banyak tangan asing.

Suatu malam, seorang penjaga gunung tua duduk di pos pendakian, menatap jejak-jejak sepatu yang memenuhi tanah becek. Ia berbisik pada dirinya sendiri, seperti berbicara pada gunung itu sendiri: "Kamu bukan panggung Nak.. Kamu Rumah." Tapi tak ada yang mendengar.

Kebanyakan yang datang tak pernah benar benar melihat gunung itu, mereka hanya melihat pantulan diri mereka sendiri di kaca ponsel, mencari validasi dari orang-orang yang bahkan tak pernah menapakkan kaki di sana.

Bertahun-tahun kemudian, jalur pendakian itu ditutup. Longsor kecil terjadi berkali-kali, tanah yang kehilangan akar tak lagi mampu menahan dirinya sendiri. Sumber air mengering. Dan gunung yang dulu ramah itu kini hanya menyisakan papan pengumuman berkarat:

"Jalur ditutup. Ekosistem rusak. Pemulihan diperkirakan puluhan tahun."

Manusia-manusia yang dulu berebut validasi di puncaknya kini pindah ke gunung lain, mencari panggung baru untuk pamer yang sama. Mereka tak pernah kembali untuk melihat apa yang mereka tinggalkan.. Bangsat memang bangsat!!

Alam tidak marah. Alam hanya lelah. Dan ia menutup dirinya, seperti seseorang yang akhirnya sadar:

"Cinta yang hanya ingin dilihat bukanlah cinta, melainkan keinginan untuk diakui. Cinta sejati hadir untuk memberi, menjaga, bertumbuh bersama dan berdampak."

"Cinta yang hanya ingin dilihat bukanlah cinta. Cinta adalah pengorbanan yang tak selalu tampak, namun selalu menghadirkan makna."

"Cinta sejati tidak sibuk mencari panggung, ia diam-diam menjadi cahaya. Tak selalu terlihat, tetapi selalu menghidupkan."

Tabe' Salama'ki Ta'pada Salama'

Catatan redaksi
Tulisan ini adalah pandangan pribadi penulis dan tidak mewakili sikap resmi REICHAS CHELEBES. Sanggahan boleh dikirim ke surel redaksi di bawah dan akan kami muat bila layak. Konteks dan pelajaran di atas ditulis oleh pengelola Kliping RCS.CBS. Kutipan berita dipakai secukupnya untuk keperluan pendidikan, dan hak ciptanya tetap milik penerbit asli. Keberatan atas kutipan ini bisa dikirim ke kliping.rcscbs@gmail.com.

Buka di portal — lengkap dengan narator, rak baca, dan kliping serupa